Doa Yang Inda…h

Doaku….
Tuhan, saat saya dilanda kemarahan, kekecewaan, dan kepahitan, ajari saya melihat dengan mata hati dan bukan dengan pengelihatan secara ego, nafsu, amarah dan kebencian. Ajari saya mengerti maksud dari segala yang terjadi dalam hidup dan bukan dengan membiarkan saya berpikir untuk menyalahkan keadaan.
Tuhan, saat saya dilanda kemarahan, kekecewaan, dan kepahitan, ajari saya melihat dengan mata hati dan bukan dengan pengelihatan secara ego, nafsu, amarah dan kebencian. Ajari saya mengerti maksud dari segala yang terjadi dalam hidup dan bukan dengan membiarkan saya berpikir untuk menyalahkan keadaan.
Engkau tahu saat saya memendam amarah dan kebencian, itu semua hanya akan merusak diri bahkan lebih menyakitkan dari apa yang sebenarnya terjadi. Saya merasa lelah berada dalam bayang-bayang menyakitkan.
Rasa benci terhadap seseorang tidak akan pernah padam, bahkan saat saya memasuki liang kubur pun hal itu tidak akan hilang, jika saya terus membelenggu diri dalam kebencian yang hanya akan membawa keresahan dalam jiwa saya.
Tuhan, Engkau mengajarkan kepada saya tentang kesabaran, keikhlasan, dan memaafkan bukan hanya sebatas ajaran saja, tapi lebih dari itu bisa membebaskan jiwa-jiwa yang terbelenggu dari amarah.
Saya bukanlah manusia yang sempurna maka jauhkanlah saya dari segala keangkuhan yang membelenggu diri.

Engkau Maha Pengampun dan Maha Pemaaf kepada setiap umatnya, maka siapalah saya jika saya terlalu sombong untuk memaafkan orang lain. Engkau pasti akan memurkai saya jika saya menjadi seseorang yang sombong.
Tuhan, ajari saya menerima segala keadaan yang terjadi sepahit apapun, karena saya tahu Engkau akan selalu bersama saya, menerangi jalan saya. Segala hal yang saya alami bukankah sudah Engkau “tuliskan” maka lapangkanlah hati saya menerima dan menjalani itu semua, baik buruk, kebahagiaan, dan kesediahan. Kuatkan saya dalam setiap langkah menapaki proses hidup yang kadang membuat saya menyerah. Tuhan, tetapkan hati saya ketika saya mengatakan “saya memaafkan kamu”. Hilangkanlah segala kesakitan saya, leburkanlah segala kesedihan saya dan saya mengharap Engkau menerangi langkah saya selanjutnya menapaki jalan kehidupan.
Amiinn. Sumber : www.perempuan.com
Doa ini sungguh indah bagiku….

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar

Kisah Sedih di Hari Minggu

Sebenarnya aku lagi sedih sesedih-sedihnya.tapi aku tidak tau kepada siapa aku bisa mengungkapkan perasaanku,kesedihanku dan rasa dukaku ini.Mungkin penggemar blog setiaku (iihh,PD banget ada penggemar) menunggu-nunggu hasil ketikan jemariku nan lentik dan bertanya-tanya,”kok blognya adem ayem saja ya??).yah,memang beg..begitulah aku,kalo pas bahagia aku tidak tuliskan disini,paling hanya bersujud dihadapanNya sambil senyum-senyum seharian sendiri,yah…sendiri,sama siapa lg,lha kadang suami jg g mau senyum hehe…kembali ke awal,tapi kalo sedih,pingiiin rasanya kucurahkan kesedihan ini pada blogku tercinta.
Hari ini, Minggu 08 Agustus 2010,tepatnya pukul 06.30 WITA,kura-kuraku yang sudah menemaniku selamakurang lebih 3 tahun meninggal dunia.Innalillahi wa innailaihi roji’un. Ya Allah,kura-kura kesayanganku,bernama Beygey,telah Engkau ambil dariku.Aku sadar, Beygey adalah titipan dariMu tapi aku ternyata tidak bisa merawatnya hingga tumbuh besar dan siap dilepas di habitatnya.
Beygey sudah lama memang sakit,2 bulan lebih aku dan suamiku merawatnya. Awalnya,atau terakhir aku memberinya makanan bakso kesukaannya. Tapi bakso itu lain bakso yang biasanya aku berikan padanya.Karena saat itu bakso kesukaannya habis,aku belikan bakso di Hypermart dengan harga yang lebih murah dari bakso kesukaannya.Saat itu aku mikir,beli yang murah aja karena makannya boros sekali jd agak ngirit sedikit.
Alhasil,2-3 kali bakso itu kuberikan,Beygey masih semangat memakannya tapi esoknya dia diam,tidak berenang seperti biasanya dia berenang di ember,matanya tertutup dan tidak mau makan sama sekali. Oh…tidaaakkk…inilah sebenarnya yang kutakutkan,kura-kuraku tidak mau makan!!!!Ku telpon dokter hewan yang no.telponnya kudapatkan dari website dan dari info mahasiswaku tapi semuanya tidak ada hasil. Semua no telpon dokter hewan gak bisa kuhubungi,ada yang sudah tidak aktif,ada yang nyambung tapi tidak pernah diangkat. Huuhhh,aku sedih.Suamiku dengan sabarnya merawat Beygey,tiap pagi dijemurnya BEygey dibawah sinar matahari,berharap tempurungnya yang kian melunak cepat mengeras kembali,berharap matanya bisa terbuka lagi, berharap dia kembali lincah lagi seperti saat pertama aku mengdopsinya,berhaarap makanan bisa masuk ke perutnya…tapi,semua itu tinggal harapan. Kini Beygey telah berpulang ke Pencipta,tubuhnya kembung,matanya terpejam dan posisinya seperti saat dia berenang,cantik sekali. Aku sempat menitikkan airmata.Beygey dikubur bersama kain putih potongan bajuku didepan rumahku.
Beygeyku yang cantik,beristirahatlah engkau dengan tenang,maafkan aku yang tidak bisa merawatmu hingga besar,yang telah memberimu makanan yang murah yang mungkin makanan itu terlalu banyak bahan kimianya sehingga tubuhmu tidak bisa menerima itu. Maafkan aku ya….Itulah jalan terbaikmu…Selamat Tinggal Beygey,engkau selalu ada dalam hatiku….

Samarinda,08 Agustus 2010

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar

Ibuku…I Miss You…..

Ibu…Kasih Sayangmu adalah Semangat Hidupku

Apa sumber motivasi terbesar dalam hidupku? Mungkin jawaban yang tepat adalah CINTA!! Cinta di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang insan berlainan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta seorang ibu/ortu pada anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan terbesar yang dimiliki yang bisa menjadi sumber motivasi bagi semua orang.
Yah, cinta ibukulah yang mampu membuatku hingga detik ini terus berusaha berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Walau jalan hidupku penuh liku tapi semua badai kehidupan, terjalan batu karang, kulalui dengan semangat. Jatuh bangun bagiku sudah menjadi hal biasa dalam kehidupanku. Mungkin ada orang yang hidupnya mulus-mulus saja, tapi tidak dengan aku. Hidupku penuh liku, kadang berkelok, kadang naik turun, tetapi kadang mulus tanpa kuduga. Aku yakin, semua itu adalah karena doamu terhadapku, ibu!! Suatu seni kehidupan yang menurutku begitu indah kurasakan. Ada tawa dan airmata. Oh ibuku, begitu dalamnya cintaku padamu, aku ingin membuatmu selalu tersenyum ibu….
Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang bukan dari kalangan yang kekurangan. Lumayanlah, kadang aku dimanjakan dengan materi dan seringkali dengan kasih sayang yang berlimpah dari ibuku. Aku bangga mempunyai seorang ibu yang mendidikku untuk tidak cengeng menghadapi kerasnya kehidupan. Walaupun kelihatannya aku lemah lembut tapi lemah bukan sifatku. Ketika aku kecil, aku selalu diajak ibu kekantor tempat ibuku mengajar. Aku selalu didudukkan dikursinya sedangkan ibuku mengajar. Aku memang dilahirkan dilingkungan pendidik. Sejak kecil pemandanganku adalah sekolah, siswa, buku dan guru. Ibuku memang seorang guru. Aku sering melihat tatapan ibuku saat menengok ketika mengajar melihatku duduk disampingnya. Tatapan yang sejuk dan indah. Kadang disela ibuku mengajar, aku dibelikan kue dan minuman kotak agar aku tidak kelaparan dan kehausan sembari menunggu ibuku selesai mengajar. Indah sekali saat itu kukenang, jika mungkin aku ingin kembali menjadi anak kecil lagi, kembali merasakan belaian ibu dipangkuannya, cerita-cerita ibu saat menghadapi kelucuan muridnya dan masih banyak lagi kenangan-kenangan indah lainnya. Disaat aku sakit, ibu langsung membawaku ke dokter saat itu juga, tidak peduli saat itu tengah malam atau saat ibuku menunaikan kewajibannya sebagai abdi negara.
Ah, sudahlah!!Waktu tidak mungkin bisa terulang kembali. Ketika aku mulai tumbuh remaja, ibuku semakin sayang sama aku. Apapun permintaanku selalu dituruti ibuku. Tapi hal tersebut tidak membuatku tumbuh menjadi gadis yang manja. Aku sadar, ibuku memperlakukan aku seperti itu karena ibu ingin membahagiakanku maka aku selalu berjanji dalam hati “ibu…kelak nanti, ijinkanlah aku membalas kasih sayang ibu, walaupun engkau tidak meminta dan aku tidak mungkin membalas jasamu yang teramat besar, paling tidak, aku ingin persembahkan dan wujudkan harapan ibu”, itulah janjiku dalam hatiku yang selalu terpatri dalam asaku. Aku berusaha selalu menuruti nasehat ibu, kuanggap kata-kata ibu adalah pesan dari Tuhan melalui ibuku yang pantas aku turuti. Aku tidak ingin mengecewakan harapan ibu terhadapku, aku ingin mewujudkan harapan ibu hingga titik darah penghabisanku, hingga suatu saat ibuku akan tersenyum bahagia melihatku. Oh ibuku, aku kangen!!!
Dari segi pendidikan, sejak SD hingga aku lulus magister, aku berusaha menghadiahkan ibuku dengan prestasi walau tidak selalu juara pertama tapi setidaknya aku bisa masuk 10 besar. Hal itu sudah membuat ibuku bangga. Ibuku ingin aku juga menjadi pendidik seperti beliau. Walaupun sebenarnya ada penolakan dalam hatiku karena aku tidak suka menjadi pendidik karena harus banyak bicara didepan kelas tapi keinginan ibuku selalu terpatri dalam ingatanku. Aku selalu berusaha keras untuk memenuhi harapan ibuku. Berbagai tantangan kuhadapi dengan tegar demi sebuah cita-cita.
Perjuangan demi perjuangan untuk mewujudkan harapan ibuku berusaha kuwujudkan. Setelah aku lulus magister aku berusaha melamar pekerjaan sebagai tenaga pendidik pemerintah alias dosen PNS. Jatuh bangun kualami tetapi aku tidak pantang menyerah. Tapi dibalik semua kejadian pasti ada hikmah yang bisa kupetik. Dulu aku bersikeras tidak mau menjadi seorang pendidik tetapi berkat dorongan dan semangat yang diberikan ibuku, aku sekarang baru merasakan, betapa nikmatnya menjadi seorang pendidik. Ada kepuasan bathin tersendiri ketika aku bisa memberikan ilmuku kepada mahasiswaku. Ada rasa bersalah ketika kadang aku harus meninggalkan tugasku untuk mengajar mahasiswaku karena sesuatu hal. Yah, lama kelamaan aku semakin mencintai pekerjaanku dan menyayangi para mahasiswaku. Mereka adalah asset bangsa yang harus di didik. Betapa berdosanya aku jika aku menyia-nyiakan mereka. Itulah kata-kata yang selalu muncul dihatiku yang paling dalam. Aku baru menyadari, ternyata pilihan ibuku adalah yang terbaik untukku. Ternyata harapan ibuku tidak salah seperti yang kuduga selama ini. Aku sekarang sudah mulai merasakan betapa nikmatnya menjadi seorang pendidik, sungguh tak bisa kupungkiri. Terima kasih ibu atas semangatmu dan cintamu…
Kini, aku semakin beranjak dewasa dan itu berarti aku harus menikah, mencari jalan hidupku yang lebih indah bersama seseorang yang diberikan Tuhan padaku. Kebetulan aku harus mengikuti suami yang bekerja diluar pulau. Sejak itulah, airmata selalu menghiasi hari-hariku. Airmata kerinduan, airmata kesedihan karena harus jauh dari seseorang yang selama ini mencurahkan kasih sayang kepadaku. Seseorang yang selalu kulihat senyumnya dari dekat walau kadang sakit melandanya, seseorang yang selama ini memberikanku makna kehidupan dan kebahagiaan dengan cucuran keringatnya. Seseorang yang selalu menyiramiku dengan belaian lembutnya.
Aku ingat saat ibu melepas kepergianku di bandara bersama suamiku. Raut kesedihan tidak dapat disembunyikan. Aku menyadari hal tersebut karena memang sejak kecil hingga aku lulus magister, aku tidak pernah bisa berjauhan dengan ibuku. Saat kuliahpun, aku memang kuliah diluar kota tapi seminggu sekali kami selalu bertemu. Kalau tidak aku yang pulang kerumah, ibuku yang menjengukku ke kos. Masa-masa aku kuliah juga begitu indah. Ibuku setiap saat bisa datang ke kota tempat aku menuntut ilmu dengan membawakanku makanan, kadang uang saku tambahan agar aku tidak kekurangan karena jauh dari ibu. Tapi aku memang nakal, uang saku yang seharusnya buat makan makanan yang layak (tidak makanan ala anak kos), kadang aku belikan baju hehe….Ibuku memang sangat perhatian. Itulah yang membuatku juga semakin cinta dan sayang kepada ibuku. Aku semakin termotivasi untuk cepat lulus dan mendapatkan nilai yang baik agar aku bisa cepat membalas semua pengorbanan yang telah ibu berikan selama ini. Uang saku tambahan yang selalu ibu berikan kepadaku tidak selalu aku gunakan untuk berfoya-foya tetapi aku tabung sehingga kalau ada kebutuhan darurat aku tidak merepotkan ibu.Walau aku sempat berjauhan dengan ibuku tetapi aku tidak ingin merepotkan ibuku. Aku selalu berusaha hidup mandiri. Hingga detik ini…..
Itulah masa-masa kuliahku hingga akhirnya aku harus berpisah dengan ibu untuk jangka waktu cukup lama, jarak yang cukup lumayan jauh karena dipisahkan lautan yang luas. Tapi aku tidak boleh bersedih terlalu lama. Aku harus tetap berjuang mewujudkan asa ibuku walau saat ini aku berjauhan dengan beliau. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik walau badai, gelombang, jalan terjal selalu menghadang di depanku, demi melihat ibuku bangga. Berkat doa, cinta dan motivasi terus menerus dari ibu, aku berhasil mewujudkan asa ibu. Aku akhirnya menjadi pendidik. Ibu, inilah hadiah yang kupersembahkan buatmu. Mungkin belum seberapa dibandingkan dengan pengorbananmu selama ini untukku tapi semoga ibu bangga aku berhasil mewujudkan impian ibu.
Aku memang telah mewujudkan harapan ibu tapi ibu tidak pernah mau kuberi hasil dari kerjaku. Dengan penuh keikhlasan, ibuku justru menyuruh agar hasil yang kudapat dari kerja bisa ditabung untuk keperluanku sendiri. Benar-benar sepeserpun ibuku tidak pernah mau meminta.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun terus berlalu. Tak terasa 4 tahun aku sudah tidak menatap wajah cantik ibuku. Bahkan kadang aku membayangkan wajah beliau saat ini seperti apa. Untuk mengunjungi ibu, aku terbentur dengan waktu dan biaya perjalanan yang mahal. Sebenarnya apalah arti biaya dibandingkan dengan kebahagiaan bisa menjenguk ibu tetapi ibuku juga melarangku agar tidak dipaksakan untuk pulang agar hasil yang dikumpulkan selama ini tidak mubadzir di perjalanan. Hanya suaranyalah yang bisa kudengar selama ini melalui telepon. Kesehatan yang selalu dikabarkan kepadaku semoga memang benar-benar kenyataan. Aku selalu mengirimkan doa untuknya agar beliau selalu diberi kesehatan dan limpahan rizkiNya.
Bayangan wajah ibuku selalu ada dipelupuk mataku. Kadang ditengah tidur malamku aku terbangun karena mimpi bertemu dengan ibuku. Sepertinya kerinduan itu tak bisa kubendung lagi. Aku ingin mencium pipi ibuku yang tentunya sudah dihiasi keriput, aku ingin bersujud di telapak kaki ibuku. Tuhan, ijinkan aku untuk bertemu dengan ibuku. Ijinkan aku membahagiakan ibuku yang telah mengandungku selama 9 bulan, ibuku yang telah melahirkanku dengan kesakitan yang luar biasa, ibuku yang telah membesarkanku dengan keringatnya dan kasih sayangnya, ibuku yang telah mengantarkanku kesebuah kesuksesan duniawi walaupun belum sempurna. Berjuta kata terima kasih takkan bisa membalas jasa ibu kepadaku. Ibu, aku kangen!!Sekali lagi, aku kangen padamu. Sehatkah engkau? Sedang apakah engkau saat ini, ibu?
Dari cerita di atas, saya percaya pembaca sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari. I love you, mom….

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | 3 Komentar

Malam Minggu, 23 January 2010

Terkadang…
Dalam hati ini menginginkan masa kecil itu terulang kembali
Masa disaat kasih sayang bapak dan ibuku menghiasi hari-hariku
Aku teringat…saat aku masih di TK
Saat ibu sakit terbaring lemah
Bapak membedaki wajahku dengan sangat tebal…
menyisir rambutku dengan dandanan kelimis alias rambut nempel dikepala karena kebanyakan minyak rambut..
Setelah didandani bapak, aku diantar ke sekolah, diboncengnya dengan tubuhku bersembunyi dibalik punggung bapakku…
Ahh…betapa indah saat itu Bapak…
Ketika aku beranjak SD…
Ibu selalu memasakkan bekal makanan buatku agar aku tidak jajan di sekolah
Bapakku dengan setianya antar jemput aku. Sedikitpun aku tidak pernah lepas dari pengawasan bapak…Saat hujan deras, dengan ditemani bapak aku main hujan-hujanan di teras…
Aku merasa saat itu, bapak amat sangat menyayangiku…
Hingga aku tumbuh dewasa…
Sekarang…gambaran indah masalaluku muncul di pelupuk mataku, terbayang, terngiang…nun jauh disana, seakan aku takkan bisa meraihnya kembali…
Ya Tuhan…kanapa aku sangat merindukan sosok mereka tersenyum, membelaiku, bercerita bersama disertai gelak tawa…
Ya Allah…walaupun aku hambaMu yang tidak sempurna…
Ijinkan aku membuat mereka tersenyum seperti dulu kala….

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar

Miss U…

Bapak Ibu….
Aku mencintaimu dengan sangat dalam
Maafkan anakmu yang belum sempurna
Tak mungkin ku bisa membalas semua jasamu
Ku berdoa dari jauh
Semoga Bapak Ibu selalu sehat
Bahagia
Ijinkan anakmu ini untuk bersujud padamu
Disetiap waktu…
Engkau selalu hadir di mimpiku
kadang hati ini rindu…
Tapi jarak terlalu jauh untuk kutempuh
Agar setiap saat aku bisa menatap senyummu
Wahai angin…
Sampaikan salam rinduku pada mereka
jangan biarkan airmata mereka terjatuh…
Kecuali air mata bahagia
Selamat Hari Ibu, Ibuku tercinta
Selamat hari Bapak…Bapakku tersayang

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar

Nilai Quiz II Ilmu Komunikasi Reg 2008 MK Sistem Kom Indonesia

02055104 08 KASMARIANA 55
02055105 08 MAYA AMELLIUA 80
02055106 08 FIKA FAUZIAH MOCHTAR 80
02055107 08 ACHMADYANI 60
02055108 08 RITA OKTAVIANA SARI 80
02055109 08 RIA OKTARIANA R.
02055110 08 FACHRIL RIFALDI 80
02055111 08 MUHAMMAD ANWAR 25
02055112 08 DIRAWAN RIZHAR 80
02055113 08 FRISKA BELIANA P. 80
02055114 08 BUANA FANASTAR 60
02055115 08 M. DENNI SAPUTRA 70
02055116 08 RATNASARI 80
02055117 08 MAS ADI BUDIONO 75
02055118 08 SYAHRULLAH 80
02055119 08 DINDA ANGGUN PERTIWI 80
02055122 08 YULISKA PRI ANDINI 55
02055123 08 MUHAMMAD SUSANTO 80
02055124 08 DEMMI PRIMA 70
02055125 08 BENNY 80
02055127 08 DAVID APRI PRATAMA 80
02055128 08 MULIDA ARDIYANI 60
02055129 08 FIRMAN YULIA PUTRA 80
02055130 08 HERISTIANA MAULIDIA 68
02055131 08 UMI PUSPITA RIN P. 50
02055132 08 LIA HERLIANI 60
02055133 08 TRI AYU OCTAVIANI 75
02055134 08 JULIANA FRANSISKA P. 60
02055135 08 ARI YUDA SAPUTRA 80
02055136 08 ARINY SARTIKA 80
02055137 08 M. REYZA SHAHAB 80
02055138 08 MUHAMMAD KHUSAINIE 50
02055139 08 BENY SETIAWAN 80
02055141 08 EDUARD WILHER H. 80
02055143 08 TRI SURIYATI 55
02055144 08 FERRY VERGIAWAN 75
02055147 08 RINI DWI JHAYANTI 55
02055148 08 JUNASTI ARIANI 80
02055149 08 ASEP ANSHORIE 75
02055150 08 MAYA PURNAMA SARI 80
02055151 08 MEILINDA SARI 80
02055153 08 ADITIYA 75
02055154 08 DUMAIDA PANJAITAN 55
02055155 08 AMINULLAH RAMADANI 100
02055156 08 ASRI MIRANTY F D. 80
02055159 08 SIRLYEAMRIDJUDDIN 70
02055160 08 ENDAH S. 60
02055161 08 PRASISCA AGUSTINA 80
02055162 08 RINA PUSPITASARI 31
02055164 08 DIAH AGUSTINAH 80
02055165 08 MUIZZUDIN 10
02055166 08 FACHRIZA ARIYADI 80
02055167 08 HELMIA 80
02055168 08 ADHITIYA DHARMADI 80
02055169 08 ERWIN SANTOSO 80
02055171 08 ANI WULANDARI 40
02055172 08 NOVA TRI ASTUTI 80
02055173 08 ADTYA WIJAYA 75
02055181 08 SOPIA ARINI 80
02055183 08 ACHMAD SAURI 80
02055184 08 ABDUL KARIM AL ARIF 68
02055187 08 DENY SETIAWAN 80
02055188 08 MELLISA 80

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Komentar Dimatikan

Jenis Penelitian Kualitatif Berdasarkan Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian

Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat dibedakan kedalam tiga jenis, meliputi:

a. Penelitian Eksploratif

Yaitu penelitian yang dilaksanakan untuk menggali data dan informasi tentang topik atau isu-isu baru yang ditujukan untuk kepentingan pendalaman atau penelitian lanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang lebih akurat yang akan dijawab dalam penelitian lanjutan atau penelitian kemudian. Peneliti biasanya menggunakan penelitian eksplorasi ini untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam penyusunan desain dan pelaksanaan kajian lanjutan yang lebih sistematis.

Penelitian eksploratory pada umumnya dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan ”Apa (what)” (Apa sesungguhnya fenomena sosial tersebut?). Pada penelitian ini seringkali menggunakan data-data kualitatif.

b. Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif menghadirkan gambaran tentang situasi atau fenomena sosial secara detil. Dalam penelitian ini, peneliti memulai penelitian dengan desain penelitian yang terumuskan secara baik yang ditujukan untuk mendeskripsikan sesuatu secara jelas.

Penelitian deskriptif biasanya berfokus pada pertanyaan ”bagaimana (how)” dan ”siapa (who)” (Bagaimana fenomena tersebut terjadi? Siapa yang terlibat didalamnya?)

c. Penelitian Eksplanatif

Tujuan penelitian eksplanatif adalah untuk memberikan penjelasan mengapa sesuatu terjadi atau menjawab pertanyaan ”mengapa (why)”.

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | 2 Komentar

Cita-cita Besar Untuk Negeri yang Lebih Maju

Jumat, 13 November 2009 12:13 Inda Fitryarini
Email Cetak PDF

Pewarta-Indonesia, Benar-benar suatu kebanggaan tersendiri bisa mengikuti Lomba menulis Surat Buat RI-1 dan RI-2 apalagi bisa menang. Saat itu ketika saya cek email (kegiatan setiap hari yang rutin saya lakukan), saya membaca email dari infolomba.com bahwa ada lomba menulis surat buat RI-1 dan RI-2 di www.pewarta-indonesia.com. Secara spontan, ide menulis saya muncul. Saya mencoba untuk “curhat” pengalaman kepada RI-1 dan RI-2 melalui lomba ini karena memang sangat susah untuk “curhat” kepada orang nomor satu di Indonesia jika tidak ada moment khusus seperti yang diadakan redaksi Pewarta Indonesia.

Singkat kata, surat saya kirim ke redaksi Pewarta Indonesia. Selain berharap surat menang di ajang lomba, harapan saya waktu itu adalah agar surat saya disampaikan kepada RI-1 dan RI-2, dibaca oleh mereka berdua dan direalisasikan harapan saya sebagai tenaga pendidik yang mempunyai sebuah cita-cita besar untuk membuat negeri ini menjadi lebih maju.

Saat hari-H pengumumanpun tiba. Alhamdulillah, senangnya bukan main karena ternyata harapan saya terwujud. Surat saya menjadi juara I untuk kategori Umum. Tidak pernah saya duga sebelumnya karena menurut saya, tulisan teman-teman lain banyak yang lebih bagus dari tulisan saya. Tapi sekali lagi, saya sangat bangga bisa menjadi pemenang. Sesaat terngiang lagu Dewi Lestari “Aku yang jadi juaranya…..”

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dengan mengikuti lomba ini. Banyak hikmah yang bisa saya petik dari ajang kompetisi ini. Pengalaman menulis, menuangkan pikiran kedalam secarik kertas, apalagi dibaca ratusan orang diseantero nusantara, benar-benar membanggakan. Hikmah dari semua ini adalah dengan menulis, selain kita bisa berkreativitas, menuangkan opini, otak kita akan semakin terasah. Dengan menulis, pengetahuan dan wawasan kita akan semakin bertambah dan luas karena untuk bisa menulis kita harus sering membaca buku. Selain itu, dengan menulis kita bisa mendapatkan rejeki dari kiriman tulisan kita (so pasti!!). Maka dari itu, saya ingin mendorong teman-teman sekalian, giatlah menulis, kembangkan kreativitas. Sedikitlah berbicara dan banyaklah menulis, itulah motto saya.

Kepada redaksi Pewarta Indonesia, saya ucapkan banyak terima kasih diselenggarakannya lomba Menulis Surat Buat RI-1 dan RI-2. Saya tunggu lomba-lomba menulis lainnya.

Salam

INDA FITRYARINI

Dimuat di www.pewarta-indonesia.com

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar

Menulis Untuk Media Massa

Menulis di media-massa berbeda dengan menulis
untuk buku, apalagi menulis di blog. Tentu juga
beda dengan menulis karya sastra dan
menulis karya ilmiah.

Prinsip yang paling utama adalah, media-massa
membicarakan FAKTA. Bentuk naskahnya bisa
berupa berita, artikel, feature ataupun laporan.
Tapi intinya, semua tentang fakta. Sekalipun
kita menulis artikel opini misalnya, tetap saja isinya
adalah sikap penulis tentang fakta yang disorot tsb.

Oleh sebab itu, dari segi cara menulis, tulisan untuk
media-massa sebenarnya tidak selalu mesti
benar-benar “tulisan pribadi” yang kata-katanya
adalah asli tuturan kata-kata kita sendiri. Istilahnya
kita “ngarang”.

Dalam banyak kasus, berdasarkan observasi saya
terhadap naskah-naskah para pemula, justru masalah
inilah yang jadi MASALAH BESAR. Kebanyakan
penulis pemula, lebih cenderung menulis dengan
cara ngarang. Banyak sekali kata-kata yang keluar,
namun sangat sedikit fakta.

Tentu saja itu tidak salah. Bahkan saya menemukan
banyak sekali tulisan yang bagus yang dikirim para
pemula itu. Masalahnya adalah kriteria layak terbit
media menyebabkan tulisan ngarang itu nggak
bisa diterbitkan, sekalipun ide nya bagus.

Tempatnya mungkin lebih cocok bukan di media-massa.
Bisa jadi untuk blog lebih pas.

Nah yang sangat disayangkan adalah banyak penulis
yang down gara-gara naskahnya sering ditolak, lalu
akhirnya membuat kesimpulan, “Saya nggak bisa nulis”.

Ini sama sekali tidak benar. Dan kesimpulan itu sangat
berbahaya. Bisa menyebabkan sang penulis pemula
minder dengan tulisan-tulisannya atau malahan jadi
percaya 100% bahwa ia memang tak bakat nulis.
Lalu terjadilah …. nggak mau lagi nulis!

Sesungguhnya yang jarang disadari penulis pemula
adalah hanya soal SALAH TEMPAT saja.

Ada memang jenis naskah yang lebih tepat ditulis
dengan “cara ngarang”. Misalnya menulis
surat pribadi atau surat pembaca, menulis cerita,
menulis essay, menulis pengamatan atau pengalaman.
Dalam hal ini, diri kita sangat kompeten dan jelas punya
otoritas untuk itu.

Agar lebih mudah memahami, saya akan buatkan
sebuah contoh. Misalkan kita ingin menulis sebuah
kritik tentang kebijakan ekonomi yang baru saja
diambil pemerintah. Lalu dalam tulisan itu, kita
utarakan berbagai pernyataan dan kritik pedas kita
betapa kelirunya kebijakan itu … kira-kira apa yang
dipikirkan redaktur ketika membacanya?

Bisa jadi ide dalam tulisan itu sebenarnya bagus. Namun
sayang, karena terlalu dominan dengan kata-kata sendiri,
miskin dengan fakta dan argumentasi rasional, ngarang-nya
lebih banyak …. akhirnya naskah itu ditolak. Media-massa
bukanlah tempat curhat!

Redaktur bertanya, mewakili pembaca tentu saja,
“Siapa sih dia? Apa otoritasnya? Apakah ia
kompeten berpendapat begitu?

Sebab itulah, untuk tulisan jurnalistik, khususnya bagi
para pemula, “cara ngarang” ini biasanya belum
pas betul. Biasanya para pemula akan terjebak pada
subyektifitas yang terlalu tinggi sehingga lupa
pada fakta-fakta pendukung.

Fokus pada Fakta

Kekuatan sebuah naskah karya jurnalistik dinilai pada
content atau materi tulisan. Bukan pada cara-menulis
nya. Bukan pula pada faktor bahasa.

Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan
pikiran kita sendiri. Apalagi melulu hanya suara hati
yang penuh emosi, curhat.

Para pembaca media-massa tidak akan terlalu peduli
dengan pikiran anda, juga perasaan anda. Khususnya
kalau Anda hanya lah orang biasa.

Yang mereka mau, yang mereka butuh adalah,
apa fakta-fakta yang anda punya. Sebab itu, fokuslah
pada upaya menggali dan menelaah fakta-fakta itu.

Lain halnya kalau Anda menulis sesuatu yang jadi
otoritas anda, kompetensi anda. Okey .. silakan.
Suara anda signifikan bagi pembaca.

Tapi kalau Anda hanya rakyat biasa yang belum
signifikan di mata publik, MODAL anda
adalah: BAHAN. Cara kerja anda adalah RISET.

Jadi, apa kuncinya berhasil menembus media?
Ini dia point-pointnya (saya ambil contoh untuk artikel):
1. Amati fakta yang sedang aktual, yang jadi sorotan publik.
2. Ikuti terus perkembangan, termasuk opini-opini yang ada
3. Lakukan riset, kumpulkan bahan-bahan. Pelajari.
4. Tentukan point utama anda. Jadikan itu sebagai
SELLING POINT anda atau angle anda.

Lalu, mulailah menulis. Kalau Anda bukan siapa-siapa
jangan tonjolkan diri anda. Gunakan “mulut orang lain”
dan “otak orang lain”. Biarlah anda beropini lewat
keseluruhan naskah anda. Jangan ngarang. Gunakan
data, fakta, atau referensi lain sebagai kekuatan
argumentasi anda.

InsyaAllah dengan cara demikian, naskah Anda
tak bisa ditolak oleh media. Berani mencoba?

Bagaimana dengan kemampuan menulis anda?
Skill menulis apapun yang anda miliki saat ini,
pakai sajalah. Asal bisa menulis kalimat yang
orang lain mengerti, sudah cukup itu. Yang penting
jaga alur tulisan itu. Baca berkali-kali sampai
anda yakin, ide nya bisa ditangkap oleh pembaca.

Soal bagus atau jelek bahasa, biarkan saja. Ntar juga
diperbaiki oleh editor/redaktur, asal mereka yakin,
isinya “layak terbit”. Sambil terus berjalan,
saking seringnya menulis, lama-lama skill atau cara
kita menulis itu akan baik juga secara otomatis.

Pasti akan berlaku teori “kuantitas melahirkan kualitas“.

Semoga berguna.

Sumber :http://sekolahmenulis.com

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar

Latar Belakang Penelitian

Memulai suatu penelitian memang gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Kadang kening sudah dilipat, masih saja belum ketemu ide. Kadang sudah menghitung bintang, eh…yang ada malah nglamun kemana-mana. Untuk memulai sebuah penelitian, tidak harus berawal dari judul. Tapi renungkan, ada masalah apa dibalik suatu fenomena. Untuk membuat latar belakang penelitian, terpenting adalah berikan ulasan mengapa anda penting melakukan penelitian tersebut, apa manfaat jika penelitian dilakukan dan apa akibat jika tidak dilakukan penelitian.
Kalau si penelitinya sendiri bingung kenapa suatu hal X harus diteliti, gimana dengan pembacanya, makin bingung dooong!! Hehe…
Masalah bisa berasal dari hasil penelitian terdahulu, pengalaman peneliti, teori dan pengamatan peneliti.
Nah…kalau kita sudah mendapatkan masalah yang urgent untuk kita angkat, kita bisa mulai menulis latar belakang penelitian dengan teknik penulisan piramida terbalik.
Tips untuk menulis latar belakang penelitian ;
1. Tuliskan masalah yang anda teliti dalam lingkup luas/umum terlebih dahulu. Misalkan anda akan meneliti tentang Humas, tuliskan pengertian humas secara luas, kemudian humas obyek X itu sendiri seperti apa keadaannya saat ini serta data-data tentang humas obyek X dan terakhir pentingnya memecahkan kasus/masalah Humas X tersebut. Latarbelakang masalah sebaiknya mengandung bukti nyata di lapangan, dan hanya diuraikan secara singkat. Sebagai contoh, apabila peneliti hendak mengangkat tema strategi humas PT X dalam meningkatkan Citra, maka diuraikan tentang strategi yang ditempuh Perusahaan X selama ini dan kenapa citra perusahaan X tersebut perlu ditingkatkan? Apakah ada suatu kasus tertentu yang membuat perusahaan X tersebut perlu meningkatkan citranya.
sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut.
Masalah riset bisa diangkat dari fakta-fakta dan data-data lapangan (studi kasus), dari studi literatur, dari kebutuhan perusahaan / instansi, atau dari kebutuhan pengembangan ilmu / teknologi, dsb.
Singkatnya, di dalam latar belakang masalah, dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoretik ataupun kesenjangan praktis yang melatarbelakangi masalah yang diteliti. Di dalam latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas teori, hasil-hasil penelitian, kesimpulan seminar dan diskusi ilmiah ataupun pengalaman/pengamatan pribadi yang terkait erat dengan pokok masalah yang diteliti. Dengan demikian, masalah yang dipilih untuk diteliti mendapat landasan berpijak yang lebih kokoh.

Dipublikasi di Ilmu Komunikasi | Tinggalkan Komentar